Rekognisi Sosio Historis Kewenangan Pengawasan BPD dalam Pemerintahan Desa Menurut Undang-Undang Desa Perspektif Siyasah Dusturiyah

Authors

  • Zulfa Listiani Putri Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
  • Lutfi Fahrul Rizal Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
  • Muhammad Amin Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

DOI:

https://doi.org/10.46870/jstain.v7i2.2023

Keywords:

BPD, Legitimacy, Musyawarah, Dar’u al-Mafāsid, Village Oversight

Abstract

This study analyzes the legitimacy and supervisory function of the Village Consultative Body (Badan Permusyawaratan Desa/BPD) within the framework of village autonomy by linking historical evolution, the spirit of deliberation (musyawarah), and the legal maxim dar’u al-mafāsid muqaddamun ‘alā jalb al-maāli. The BPD is understood as the product of an adat–state negotiation that evolved from pre-colonial village deliberative forums (rembug desa) that were organic and inclusive, weakened into subordinate meetings during the colonial period, formalized as the Village Consultative Council (LMD) after independence, and later transformed into the modern BPD (Law No. 22 of 1999 and Law No. 6 of 2014). Normatively, the BPD functions as a counterbalance to the executive; however, in practice it remains vulnerable to patronage and bureaucratization, causing its oversight role to be largely symbolic and insufficiently inclusive of women and youth. Using a normative juridical and socio-historical approach, this study demonstrates that musyawarah as the core of legitimacy has shifted from endogenous, adat-based legitimacy grounded in mutual cooperation (gotong royong) toward fragile, vertically regulatory legitimacy. This shift has led to the erosion of local wisdom and the weakening of the BPD’s supervisory function. In fact, the maxim dar’u al-mafāsid requires musyawarah to operate as an ethical mechanism for preventing harm (such as corruption of village funds) and to serve as the primary filter in every village decision. These findings lead to recommendations for normative reconstruction and the revitalization of inclusive, transparent, and locally grounded deliberative musyawarah, so that the BPD can once again function effectively as a supervisory body and guardian of village harmony in accordance with the principles of good governance and maqāid al-sharī‘ah.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abadi, S. J. (2018). Peran Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam proses legislasi peraturan Desa Batu Belerang Kecamatan Sinjai Borong Kabupaten Sinjai (Skripsi). Universitas Muhammadiyah Makassar.

Abdullah, D. (2016). Hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Jurnal Hukum Positum, 1(1), 83–84.

Antlöv, H. (2014). Village institutions under pressure: Local democracy in Indonesia. Journal of Southeast Asian Studies, 45(2), 200–225.

Asrori, Hotnier, Catur, & Amsal. (2021). Peran Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Indocamp.

Azzuhri al-Bajuri. (2019). Pemikiran politik Islam Najm al-Din al-Thufi (Kajian siyasah syar’iyah). Jurnal Ilmiah Syari’ah, 18(1), 11.

Budiyarto, Salmin, & Very. (2016). Fungsi pengawasan Badan Permusyawaratan Desa dalam pelaksanaan pembangunan desa di Kecamatan Galela Kabupaten Halmahera Utara. Jurnal Administrasi Publik, 3(41), 2.

Dwitasari, N. I. (2018). Peran Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam perencanaan pembangunan desa (Skripsi). Universitas Brawijaya.

Fauzi, A. (2023). Analisis peran Badan Permusyawaratan Desa dalam pengawasan pemerintahan desa. E-Jurnal IAIPD Nganjuk, 10, 1–15.

Juita, E. (2016). Fungsi Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam pengawasan penyelenggaraan pemerintahan di Desa Wiau-Lapi Kecamatan Tareran Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal Ilmu Politik, 3(1), 6–10.

Khanafi, A. (2022). Pemerintahan desa: Partisipasi dalam perencanaan pembangunan desa. Deepublish.

Kholik, M. A., Azazy, Y., & Najmudin, D. (2025). Analisis Sanksi Tindak Pidana Pembunuhan Berencana Dalam Putusan Nomor:305/PID.B/2024/PN RBI Perspektif Hukum Pidana Islam. Kartika: Jurnal Studi Keislaman, 5(1), 66–79. https://doi.org/10.59240/kjsk.v5i1.142

Lubis, A. A. A. M. R. (2019). Ilmu hukum dalam simpul siyasah dusturiyah. Semesta Aksara.

Nofitri, F., & Deisy. (2018). Fungsi pengawasan Badan Permusyawaratan Desa dalam pelaksanaan pembangunan desa di Desa Bataka Kecamatan Ibu Selatan Kabupaten Halmahera Barat. Jurnal Administrasi Publik, 4(54), 1–2.

Prasetyo, D. (2019). Mengenal Badan Permusyawaratan Desa (BPD). CV Derwati Press.

Pratama, A. (2021). Pelaksanaan fungsi pengawasan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam pengelolaan dana desa menurut perspektif fiqh siyasah (Studi di Desa Sinar Harapan Kecamatan Talang Padang, Tanggamus) (Skripsi). UIN Raden Intan Lampung.

Rafly, J., & Neni. (2018). Kewenangan pemerintah desa dalam peningkatan perekonomian di Desa Mahangiang Kecamatan Tagulandang Kabupaten Kepulauan Sitaro. Jurnal Eksekutif, 1(1), 4.

Ramadhan, M. (2019). Kontekstualisasi doktrin politik Islam dalam fiqh siyasah. Nasya Expanding Management.

Stewar, J., & Josef. (2017). Peranan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam penyelenggaraan pengawasan pemerintahan (Studi di Desa Sereh 1 Kecamatan Lirung Kabupaten Talaud). Jurnal Eksekutif, 1(1), 4.

Tesa, Hohannis, & Frangky. (2017). Fungsi pengawasan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja desa tahun 2015 di Desa Esandom Kecamatan Tombatu Timur. Jurnal Eksekutif, 1(1), 2.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Wasistiono. (2012). Rembug desa tradisional di Jawa. Jurnal Sejarah Lokal, 8(1), 23–40.

Wasistiono. (2016). Evolusi lembaga desa dari adat ke modern. Jurnal Sejarah Lokal, 9(1), 12–30.

Downloads

Published

30-12-2025

How to Cite

Putri, Z. L., Rizal, L. F., & Amin, M. (2025). Rekognisi Sosio Historis Kewenangan Pengawasan BPD dalam Pemerintahan Desa Menurut Undang-Undang Desa Perspektif Siyasah Dusturiyah. AL-MUTSLA, 7(2), 755–766. https://doi.org/10.46870/jstain.v7i2.2023