Perampasan Lahan : Membaca Ulang Hadits Larangan Mengambil Sejengkal Tanah

Authors

  • Ria Renita Abbas Universitas Hasanuddin, Indonesia
  • Firdaus Dahlan UIN Alauddin Makassar, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.46870/jstain.v7i2.1947

Keywords:

Perampasan lahan, Kerusakan, Tanah, Sumber daya alam

Abstract

Mengambil sejengkal tanah dari milik orang lain telah dilarang oleh Rasulullah dalam haditsnya. Hadits tersebut harus dibaca ulang dalam konteks sekarang pada ranah perampasan lahan yang semakin marak. perampasan lahan bukan lagi pengambilan sejengkal tetapi dalam jumlah lokasi yang sangat luas. Perampasan lahan banyak dilakukan elit korporasi dengan dukungan penguasa,  biasanya dengan sebuah perampasan dengan cara kekerasan atau dengan secara legal hukum lewat manipulasi administrasi dan keputusan pengadilan, selanjutnya diikuti dengan ulah manusia berupa eksploitasi yang menimbulkan krisis.Tehnik analisa menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu menganalisis teks hadist dengan komponen yang biasa menyertainya. Pengkajian hadits tentang perampasan lahan dimaksudkan untuk mengeksplorasi makna hadis secara tekstual dan kontekstual atau mengambarkan realitas yang dapat memberi kontribusi pemikiran terkait perampasan lahan tersebut. Diantara hasilnya bahwa ulah manusia yang banyak memberikan andil dalam kerusakan di bumi adalah penguasaan perampasan lahan oleh korporasi, bahkan perampasan lahan tersebut dapat diklaim sebagai sebab utama dari kerusakan lingkungan hidup dan ekosistemnya,

 

Taking even an inch of land from another person has been prohibited by the Prophet Muhammad in his hadith. This hadith must be reread in the current context of the increasingly rampant realm of land grabbing. Land grabbing is no longer just taking an inch but in a very large number of locations. Land grabbing is often carried out by corporate elites with the support of those in power, usually with a seizure by force or by legal means through administrative manipulation and court decisions, then followed by human actions in the form of exploitation that causes a crisis. The analysis technique uses a qualitative descriptive method, namely analyzing the text of the hadith with its usual components. The study of the hadith on land grabbing is intended to explore the meaning of the hadith textually and contextually or describe the reality that can contribute to thinking related to land grabbing. Among the results is that human actions that contribute greatly to the destruction of the earth is the control of land grabbing by corporations, in fact, this land grabbing can be claimed as the main cause of environmental damage and its ecosystem.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abul Abbas al-Qurthubi, Al-Mufhim lima Asykala min Talkhishi Kitabi Muslim, tanpa tahun: juz IV, halaman 53

Achyar, Eldine . 2005. Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam. http://www.uika-bogor.ac.id/jur07.htm.

Alting, H. 2013. Konflik Penguasaan Tanah Di Maluku Utara : Rakyat Versus Penguasa Dan Pengusaha. Jurnal Dinamika Hukum Vol. 13 No. 2 Mei 2013 : 266-282

Asy Syatibi, Abu Ishak. Al Muwafaqaat, jus II (Beirut, Dar al Ma’rifah) tt h. 174-175.

Borras Jr et al. 2012. Land Grabbing and Global Capitalist Accumulation: Key Features in Latin America. Canadian Journal of Development Studies. 33 (4) : 402-416

Bukhari, Al Jami’ Al Musnad, Dar Tauqh Najah Cetakan 1 juz 4 hal 107

Chinsinga, Blessings, Michael C, Sane PZ. 2013. The Political Economy of Land Grabs in Malawi: Investigating the Contribution of Limphasa Sugar Corporation to Rural Development. Journal Agric Environt Ethic. 26: 1065-1084.

Harvey David. 2004. "The 'New' Imperialism: Accumulation by Disposession." In Socialist Register , edited by L. Panitch and C. Leys. Monthly Review Press. New York

Knitter, Paul. 2010. Prologue. In Vigil, J.M, L.E tonita and M. Barros (eds) 2010. Along the many path of God-IV Intercontinental Liberation Theology of Religious Pluralism. EATWOT, Ecumenical Association of Third World Theologians. EATWOT’s International Theological Commision. Cyberspace, March 2010 www.InternationalTheologicalCommission.org

Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA). 2014. 2018. Masa Depan Reforma Agraria Melampaui Tahun Politik. Catatan Akhir Tahun 2018 Konsorsium Pembaharuan Agraria, Jakarta

Levien, M. 2012. “The land question: special economic zones and the political economy of dispossession in India”. Journal of Peasant Studies. 39:3-4, 933-969. 2012

Maladi, Vanis. 2012. Dominasi Negara Sebagai Sumber Konflik Agraria Di Indonesia. Jurnal Masalah-Masalah Hukum, Jilid 41 No. 3 Juli 2012 : 432-442

Musa Syahin, Fathul Mun’im syarh Shahih Muslim Juz 6 Daru syaruq hal.336-369 Cet. 3 tahun 2003

Muslim, Musnad As shahih Bairut, Dar Ihyaa at Turas Al Arabiy Juz 3 hal. 1231

Qardhawi, Yusuf, 198. Al Ijtihad al Mu’ashir (Beirut, al maktab al Islami) h. 68.

juz 4 h. 143 -144

Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Vol, 12 (Jakarta: Lentera Hati 2002

Ria Renita Abbas, Land Grabbing di Telukjambe Barat, Karawang, Jawa Barat dan Tautan Teoritiknya pada Karya David Harvey dan SMP Tjondronegoro, Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 9 (03) 2021 |

RIa Renita Abbas, Pelelmahan Gerakan Petani Dalam Praksis Land Grabbing di Teluk Jambe Barat Karawang, Disertasi IPB University , 2023 h.1

Thontowi, J. 2000. Penguasaan dan Pemilikan Tanah yang Diskriminatif. Persfektif Hukum Internasiional dan Hukum Nasional. JUrnal Hukum Vol. 1 No 13 : 31-46

Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Munir jilid 4, 240).

Wahyu A. Bakar. Ekspansi Korporasi dan Perubahan Tata Kelola Sumber Daya Air di HUlu DAS Rontu BIma, Disertasi IPB (2008) h. 25

White, Ben et al. 2012.“The New Enclosure: Critical Perspectives on Corporate Land Deals”, The Journal of Peasant Studies, 39:3-4, 619-647.

Downloads

Published

17-12-2025

How to Cite

Ria Renita Abbas, & Firdaus Dahlan. (2025). Perampasan Lahan : Membaca Ulang Hadits Larangan Mengambil Sejengkal Tanah. AL-MUTSLA, 7(2), 142–159. https://doi.org/10.46870/jstain.v7i2.1947